dampak covid-19 pada sektor investasi

Di Tengah COVID-19, Ekonomi Melambat Investasi Berkurang Banyak

rasikafm.co.id – Diakui atau tidak, COVID-19 jadi sebuah babakan baru dalam siklus ekonomi yang tidak hanya menghantam psikologis masyarakat, melainkan juga menghantam ekonomi nasional dengan cara yang paling keras.

Indikatornya sederhana. Banyak bisnis yang semula berjalan lancar sebelum pandemi, kini berada di titik nadir dikarenakan operasional yang berhenti.

Pemilik salon kini menutup tempat usahanya. Pengemudi ojek online tak bisa mengambil penumpang. Kereta Api berhenti beroperasi. Bus antar kota banyak yang terparkir di garasi. Dan masih banyak sektor industri lain yang tidak bisa berjalan semestinya di tengah pandemi COVID-19.

Akibatnya: ekonomi Indonesia melambat. Pada 9 Mei 2020, Bank Mandiri mencatat perlambatan ekonomi yang terjadi di Pulau Jawa, daerah yang menerima dampak ekonomi paling besar di tengah pandemi. Tercatat pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa pada kuartal I hanya sebesar 3,42%.

ekonomi lambat di masa pandemi

Walau mengalami penurunan, toh pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa lebih besar ketimbang pulau lain. Pulau Bali – Nusa Tenggara tumbuh 0,94%, sementara Sulawesi tumbuh 3,83%. Di Kalimantan, ekonomi tetap tumbuh 2,49% dan Sumatera 3,25%. Artinya tetap ada daerah yang terus bertumbuh ekonominya, kendati perlambatan tetap tak bisa dihindari.

Mengapa Ekonomi Indonesia Melambat?

Sebabnya banyak, namun yang paling utama tentu saja karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Setiap wilayah di Indonesia menerapkan kebijakan berbeda terkait PSBB, namun pada intinya kebijakan tersebut membatasi pergerakan orang dan pergerakan roda perekonomian.

Dengan kata lain, ekonomi Indonesia jauh dibawah harapan, terutama pada kuartal 1 2020. Lebih jauh lagi, perlambatan ekonomi memberi dampak tambahan di konsumsi.

Baca Juga : Cara Beberapa Negara Menerapkan Lockdown

Pertumbuhan Konsumsi Juga Anjlok

Di tiga bulan pertama 2020, konsumsi Indonesia anjlok menjadi hanya 2,97%. Padahal sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan konsumsi bisa mencapai 4,6%.

Sepertinya wajar bila konsumsi Indonesia anjlok. Sebab di masa pandemi seperti sekarang, warga masyarakat cenderung lebih mengutamakan belanja kebutuhan pokok ketimbang kebutuhan lain.

Nah, terkait dengan pertumbuhan konsumsi di Indonesia, gejalanya mesti diperhatikan berdasarkan bidang konsumsi. Memang jika dilihat secara keseluruhan, konsumsi Indonesia anjlok.

Namun kalau dilihat dari dekat, hanya sektor-sektor konsumsi tertentu yang mengalami penurunan. Adapun sektor utama seperti makanan dan minuman, serta kesehatan dan pendidikan tetap besar pertumbuhannya, walaupun angkanya masih anjlok.

pertumbuhan konsumsi anjlok di masa pandemi

Di titik ini, wajar bila konsumsi makanan dan minuman tetap tinggi di Indonesia. Diluar konsumsi, sebagian besar rumah tangga di Indonesia juga tetap menyediakan pengeluaran untuk bidang jasa kesehatan dan restoran. Kalau ditotal, angkanya mencapai 44% dari keseluruhan konsumsi rumah tangga.

Perubahan yang cukup drastis terlihat di sektor konsumsi lain, yakni pada konsumsi alas kaki dan pakaian, serta transportasi. Sektor transportasi mencatat pertumbuhan minus -1,81%, sedangkan pakaian dan alas kaki tercatat -3,29%.

Yang agak mengejutkan, meski banyak hotel dan restoran memutuskan berhenti beroperasi di tengah pandemi, toh keduanya tidak kehilangan minat, walau pertumbuhannya termasuk jeblok. Konsumsi hotel tercatat sebesar 2,39%, sedangkan restoran mencapai 5,64%.

Di tengah pandemi COVID-19, pertumbuhan konsumsi di sektor pendidikan juga tetap tinggi. Peningkatan konsumsi di sektor ini tercatat sebesar 7,85%.

Bagaimana dengan Sektor Investasi?

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut potensi kehilangan modal investasi sebesar Rp127 triliun akibat pandemi COVID-19. Dan potensi kehilangan tersebut sebagian besar disebabkan oleh kondisi China yang juga sedang morat-marit akibat pandemi.

Pada 9 Maret 2020, Republika memberitakan soal investasi dari China yang tertunda akibat COVID-19. Investasi yang tertunda lebih dikarenakan mobilitas penduduk Tiongkok yang banyak terhambat, sekaligus menimbulkan kesulitan bagi para investor yang ingin melanjutkan investasinya di Indonesia.

China memang dianggap sebagai mitra strategis penting untuk Indonesia. Republika mencatat modal China yang ditanamkan di Indonesia mencapai 4,74 miliar dollar AS, yang diguyur ke 2,130 proyek investasi dalam negeri.

dampak covid-19 pada sektor investasi

Dengan jumlah penanaman modal yang besar, tidak heran bila China menempati posisi kedua di dalam daftar negara luar yang menanamkan uangnya di Indonesia.. Setidaknya ini berdasarkan data yang dihimpun dari BKPM.

Investasi China di Indonesia bukan hanya berbentuk uang, melainkan juga tenaga kerja. Dan di tengah kondisi pandemi COVID-19, ada banyak tenaga kerja dari China yang tidak bisa kembali ke Indonesia guna melanjutkan berbagai mega proyek yang tertunda.

Ambil contoh proyek investasi pembangunan kereta cepat Jakarta – Bandung, misalnya. Sekitar 300 pekerja asal China, mulai dari staf sampai level manajerial, belum bisa kembali ke Indonesia karena tidak bisa keluar dari negara asalnya.

Kemudian dari segi hitung-hitungan angka, memang belum diungkap berapa besar penurunan investasi dari China. Lebih jauh lagi, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menuturkan bahwa kendati investasi dari China dipastikan turun, namun investasi dari negara lain justru meningkat di tengah pandemi.

Masih mengutip Republika, negara dan kawasan lain di luar China, seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan, Timur Tengah dan Eropa disasar oleh Indonesia sebagai mitra investasi potensial yang mampu menggantikan China.