Isi Pertemuan G20 Bali yang Harus Diketahui

Group of Twenty atau sederhananya disebut G20 adalah forum utama kerja sama ekonomi internasional yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia. Forum besar ini terdiri dari 1 lembaga Uni Eropa dan 19 negara. Negara anggota G20 adalah negara Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Australia, India, Brazil, Argentina, Inggris, Indonesia, Italia, Jerman, Jepang, Meksiko, Kanada, Republik Korea, Perancis, Rusia, Turki, Tiongkok, dan Uni Eropa.

Pertemuan G20 ini memiliki peran nyata dalam penanganan krisis keuangan global, kebijakan pajak, berkontribusi dalam penanganan COVID-19, dan isu lainnya seperti perdagangan, iklim, serta pembangunan. Adanya forum G20 ini memberikan manfaat yang besar bagi negara Indonesia. Indonesia dapat memperjuangkan kepentingan nasional dengan dukungan internasional lewat forum G20. Para pemimpin negara lain juga sangat mendukung target pembangunan berkelanjutan, mendorong inovasi, mengadopsi teknologi digital, memperkuat sektor kesehatan, mengatasi perubahan iklim, dan mengupayakan ketahanan pangan dan energi. 

 

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali

Indonesia menjadi tuan rumah yang menggelar hajatan G20 sepanjang tahun 2022 dan mencapai puncaknya pada acara Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT G20 yang berlangsung 10 hingga 17 November 2022 di Nusa Dua, Bali, Indonesia. Indonesia sebagai tuan rumah semakin memperlihatkan bahwa Indonesia menganut kebijakan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Presidency G20 Indonesia mengangkat tema Recover Together Recover Stronger serta mengangkat tiga isu prioritas yaitu transformasi digital, arsitektur kesehatan, dan transisi energi berkelanjutan. Tema ini selaras dan sejalan dengan tema Presidency G20 Indonesia yaitu “Pulih Bersama, Pulih Lebih Kuat”. 

G20 Bali Leaders Declaration 

Rangkaian pertemuan G20 selama satu tahun menghasilkan hasil yang konkret baik berupa kerja sama beberapa negara maupun kerja sama bisnis. KTT G20 Bali menyepakati berbagai aspek mulai dari ekonomi, ketersediaan pangan, geopolitik, dan lain-lain. Hasil KTT G20 Bali diumumkan secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia yaitu Joko Widodo pada tanggal 15-16 November 2022. KTT G20 menghasilkan beberapa hasil konkret yaitu:

 

  • Menyerukan Berakhirnya Perang Rusia dan Ukraina

Hasil KTT G20 salah satunya adalah menyerukan berhentinya perang antara Rusia dan Ukraina. Perang antara kedua negara tersebut sangat berdampak buruk terhadap ekonomi global. Sikap negara G20 dan peserta KTT G20 Bali sepakat untuk bersama-sama menyerukan perdamaian antara Ukraina dan Rusia. Presiden Joko Widodo berharap G20 dapat memulihkan ekonomi yang inklusif. 

 

  • Pembentukan Pandemic Fund G20

KTT G20 sepakat untuk melakukan pembentukan dana pandemi atau pandemic fund. Pandemic fund adalah dana yang dikelola untuk melakukan pencegahan dan persiapan jika terjadi pandemi di masa depan. KTT G20 berhasil mengumpulkan dana untuk penanganan pandemi sebesar USD 1,5 miliar dari 21 negara. Selain itu adanya pembentukan operasionalisasi, resilience and sustainability trust di bawah IMF (International Monetary Fund) sejumlah USD 81,6 miliar untuk membantu negara yang sedang menghadapi krisis. Selain 20 negara yang terlibat dalam G20, negara lain yang bukan G20 juga menyumbang dana untuk pandemic fund seperti Uni Emirat Arab, Singapura, Spanyol, Selandia Baru, dan Norwegia. Capaian konkret ini juga membantu ruang fiskal negara berpendapatan rendah berdasarkan resilience and sustainability trust. 

 

  • Dibentuknya Energy Transition Mechanism Country Platform (ETM)

Indonesia mendapatkan dana untuk transisi energi sebesar USD 20 miliar. Pembentukan ETM menjadi landasan dalam pengumpulan dana untuk percepatan transisi menuju energi hijau salah satunya dengan menutup pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batubara.

 

  • Pembiayaan dan Penanganan Utang Negara Miskin

KTT G20 sepakat bahwa negara G20 akan mendukung dan menyediakan pembiayaan bagi negara-negara yang rentan dan miskin. Penghapusan hutang bagi negara berkembang dan miskin bertujuan untuk mempercepat pemulihan ekonomi global akibat pandemi COVID-19. 

 

  • Transformasi Digital G20

KTT G20 juga menghasilkan komitmen bersama negara lain terkait isu lingkungan. Negara G20 sepakat untuk melindungi 30% lautan dan daratan pada tahun 2030 dan berkomitmen untuk mengurangi degradasi tanah sampai 50% di tahun 2040 secara sukarela. Transformasi ini mendorong dukungan sistem pembayaran untuk persiapan perekonomian pasca pandemi berbasis digital berupa Central Bank Digital Currencies (CBDC) dan Regional Payment Connectivity (RPC) di Asean. 

 

India Melanjutkan Estafet untuk Presidency G20 Selanjutnya

Setelah menghasilkan Bali Leader’s Declaration yang terdiri dari 52 paragraf, maka Presiden Joko Widodo memberikan palu estafet selanjutnya kepada Perdana Menteri Narendra Modi untuk Presidency G20 selanjutnya. Penghargaan setinggi-tingginya diberikan oleh Presiden Joko Widodo kepada seluruh peserta KTT G20  sehingga deklarasi dapat disepakati dan disahkan secara bersama-sama. Joko Widodo berharap kepada seluruh pimpinan G20 mendukung secara penuh kepada India selaku tuan rumah KTT G20 di tahun 2023. 

 

Penulis: Hertatiana Tamba