utang luar negeri

Tujuan Sebuah Negara Melakukan Utang Luar Negeri

Sebuah negara memiliki tanggung jawab agar dapat menyediakan berbagai fasilitas di wilayahnya baik sarana serta prasarana bagi rakyat. Hal tersebut diwujudkan lewat pembangunan fasilitas yang merata supaya bisa mencangkup semua daerah dan dirasakan oleh seluruh masyarakat. Negara sendiri pasti membutuhkan anggaran yang tidak sedikit untuk merealisasikan hal ini.

Maka dari itu, suatu negara tidak memaksakan pendapatannya untuk bisa merealisasikan pengembangan tersebut. Pendapatan negara yang berasal dari retribusi dan pajak bisa di lebih di genjot supaya memperbesar pendapatan APBN serta APBD.

Namun, bisa saja seluruh modal capital yang tersedia dari akumulasi retribusi dan pajak masih belum cukup untuk merealisasikan pembangunan. Sebuah negara harus memikirkan opsi lain agar bisa memperoleh modal tambahan untuk melakukan pengembangan wilayah. Dengan begitu, negara perlu melakukan utang ke pihak lain dalam hal ini adalah negara lain, yang biasa disebut sebagai utang luar negeri.

Perlu kita ketahui bersama jika definisi dari melakukan utang, terutama utang negara. Utang merupakan kewajiban yang muncul dari kondisi masa lalu dan penyelesaiannya berdampak pada aliran sumber finansial pemerintah, yang dimana utang negara mencangkup PLN (Pinjaman Luar Negeri) serta SBN (Surat Berharga Negara).

Di artikel kali ini kita akan membahas mengenai hutang. Adapun jenis utang yang dimaksud adalah utang yang berdasarkan surat berharga negara dan utang pinjaman luar negeri. Lebih lengkapnya, simak penjelasannya dibawah ini.

1. Perlunya Sebuah Utang

Berdasarkan pernyataan resmi Kementrian Keuangan Indonesia, utang dibutuhkan sebab adanya keperluan belanja bagi negara yang tentunya penting seperti menyediakan fasilitas ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan, bangunan, infrastruktur, serta sarana dan prasarana penting lainnya.

Meningkatkan IPM tersebut juga mesti didasarkan dengan pengembangan sektor kesehatan, pendidikan serta perlindungan sosial. Agar dapat memenuhi kebutuhan beberapa sektor ini, namun disamping itu negara tidak memiliki cukup modal untuk membiayai semua kebutuhan tersebut, maka negara perlu sebuah solusi lain.

Jalan satu-satunya adalah dengan memotong anggaran belanja negara, yang mana bakal menimbulkan dampak terhadap serangkaian tujuan suatu negara yang tidak kesampaian, dan masyarakat lagi-lagi akan terkena imbasnya. Sementara opsi lain bisa dilakukan yakni dengan utang luar negeri, dan pastinya diiringi oleh beberapa macam konsekuensi.

Walaupun pinjaman luar negeri negara Indonesia terbilang tinggi, namun jika dilihat dari sisi rasio utang negara Indonesia masih terbilang aman, yang dimana sesuai amanat dari undang-undang ekonomi Indonesia, berada masih cukup jauh dibawah 60 persen dari penghasilan lokal bruto negara.

2. Penerimaan Negara yang Tidak Pasti

Seperti halnya rumah tangga, sebuah negara juga mempunyai alokasi dana belanja yang selalu dianggarkan dengan rutin. Hal ini dilakukan supaya seluruh keperluan negara bisa terpenuhi dengan merata. Anggaran belanja sebuah negara diperoleh lewat berbagai macam penerimaan, mulai dari pajak, pendapatan dari BUMN, retribusi, hibah dan denda.

Selain itu, jumlah pada anggaran tidak selalu sama tiap tahun. Tapi yang pasti, suatu anggaran yang telah ditetapkan wajib terpenuhi. Seperti, Anggaran untuk merealisasikan pembangunan jalan 8 triliun tapi yang dapat dipenuhi cuma 4 triliun saja. Dengan begitu proses pembangunan bakal tersendat, membuat kemacetan tidak bisa teratasi serta arus logistik bahan dan barang semakin terhambat. Nah, hambatan tersebut mampu mengganggu keuangan dan laju perekonomian rakyat.

Kenapa penerimaan sebuah negara tidak dapat dapat memenuhi anggaran yang telah ditetapkan? Sebuah informasi penting untuk kita bahwa penerimaan negara jumlahnya terbilang tidak pasti serta sangat bergantung terhadap pergerakan ekonomi nasional serta internasional.

Ketika penerimaan rendah, membutuhkan instrument lain untuk menutupi segala kekurangan. Seperti utang ke berbagai lembaga misalnya ke bank dunia, ADB, IMF atau meminjam dana langsung ke sebuah suatu negara lain.

3. Mengejar Ketertinggalan

Agar menjadi salah satu negara yang maju, Indonesia wajib mengejar hal-hal yang dirasa masih ketinggalan, seperti di sektor sumber daya manusia dan infrastruktur. Ketertinggalan pada dua hal ini begitu mendesak untuk selalu dikejar. Walau membutuhkan biaya yang tidak sedikit serta manfaatnya yang baru akan dirasakan beberapa puluh tahun kedepan, pengembangan infrastruktur harus dan tetap direalisasikan supaya rakyat bisa bepergian dengan efisien.

Sejauh ini infrastruktur yang tersedia cuma 32% saja dari PDB atau produk Domestik Bruto. Angka tersebut masih sangat rendah bila dibandingkan dengan standar global sekitar 70%. Hal ini membuat semakin kuat faktor mengapa pengembangan infrastruktur tidak bisa ditunda. Pembangunan sarana dan prasarana yang rata sampai ke pelosok negeri tentu akan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk semakin berkembang. Pengiriman barang serta biaya logistik juga akan menjadi lebih murah.

Jika dilihat dari sektor pendidikannya saja, di Indonesia sendiri sma sekali belum merata. Berbagai wilayah masih ditemukan sarana pendidikan yang tidak layak pakai, kurangnya jumlah pengajar atau, sampai rendahnya jalur anak pergi ke sekolah. Sangat disayangkan sebab pendidikan merupakan tolak ukur dari kualitas SDM sebuah negara.