e-TLE sistem tilang elektronik

Kapolri Ingin Terapkan e-TLE, Apa itu?

rasikafm.co.id – Sejumlah ruas jalan tol di Jakarta telah menerapkan sistem tilang elektronik atau yang dikenal dengan sebutan e-TLE (Electronic Traffic Law Enforcement). Berdasarkan ketentuan yang berlaku pada sistem e-TLE, akan ada sanksi khusus yang nantinya diterima oleh para pelanggar lalu lintas. 

Untuk sekarang, hanya pengendara roda empat atau lebih saja yang diberlakukan sistem tilang elektronik tersebut. Meskipun kedepannya para pengendara sepeda motor di sejumlah wilayah Indonesia juga akan mendapat sistem yang sama.

Sistem e-TLE sendiri sebelumnya juga sudah pernah mengalami uji coba di beberapa ruas jalan Jakarta, tepatnya pada bulan November 2018 lalu. Terlihat dari kawasan Thamrin dan Sudirman yang sudah terpasang 12 buah kamera tilang elektronik. Selain itu, sejumlah titik ruas jalan di Jakarta yang kerap kali terjadi pelanggaran lalu lintas juga sudah terpasang kamera e-TLE sebanyak 57 buah menjelang akhir tahun. Setelah peralihan sistem tersebut, total ada sebanyak 54.074 pelanggar yang berhasil ditindak oleh e-TLE sepanjang tahun 2018-2019. Unit kendaraan yang diblokir dari jumlah kasus tersebut dikonfirmasi mencapai 28.625 buah. 

Lalu, bagaimana dengan sistem e-TLE yang dicanangkan Kapolri untuk diterapkan di seluruh wilayah Indonesia beberapa tahun kedepan? 

Mengenal Electronic Traffic Law Enforcement atau e-TLE

Sistem tilang elektronik atau lebih dikenal dengan singkatan e-TLE (Electronic Traffic Law Enforcement) merupakan implementasi teknologi dari Polda Metro Jaya, khususnya Direktorat Lalu Lintas. Teknologi ini diterapkan dengan tujuan sebagai yang mencatat secara elektronik para pelanggar lalu lintas, guna menjamin keselamatan, menjaga ketertiban dan keamanan pengguna kendaraan bermotor. Penerapan sistem tilang elektronik juga dilakukan karena tingginya kecelakaan fatal yang terjadi akibat dari pelanggaran lalu lintas yang dilakukan masyarakat. Saat ini, kamera e-TLE dapat memantau kecepatan, check point dan mengenali secara otomatis plat nomor kendaraan para pengendara. 

Mekanisme e-TLE dalam Memastikan Jenis Pelanggaran

Dalam mekanismenya, ada sejumlah petugas back office yang ditugaskan untuk memverifikasi para pelanggar lalu lintas yang terekam oleh kamera sistem tilang elektronik ini. Perangkat tersebut juga akan mengirimkan barang bukti pelanggaran ke monitor para back office secara otomatis. 

e-TLE sistem tilang elektronik

Setelahnya, petugas-petugas lalu lintas ini akan melakukan identifikasi terhadap data kendaraan yang bersumber dari ERI (Electronic Registration & Identification). Petugas akan menindaklanjuti para pelanggar tersebut dengan cara mengirimkan surat konfirmasi ke alamat yang tertera pada data yang diperoleh. Kemudian, para pemilik kendaraan yang sudah mendapatkan pemberitahuan diwajibkan untuk mendatangi kantor Sub Direktorat Penegakan Hukum atau konfirmasi via website.

Untuk proses penegakkan hukum, setiap pelanggaran yang terjadi akan dikenakan sanksi berupa denda uang yang dapat dibayar melalui BRIVA, setelah proses verifikasi selesai dilakukan. Bagi pelanggar lalu lintas yang tidak segera melaksanakan konfirmasi, maka akan berujung dengan pemblokiran STNK untuk sementara waktu. 

Baca Juga : Menelisik Perjalanan Karir Tri Rismaharini, Dari PNS Jadi RI 29

e-TLE Dapat Memverifikasi Jenis-jenis Pelanggaran Berikut Ini:

  • Berkendara dengan menggunakan ponsel.
  • Tidak memasang sabuk pengaman.
  • Berkendara motor tanpa menggunakan helm.
  • Melawan arus.
  • Salah masuk jalur.
  • Melakukan pelanggaran dengan mengemudi di atas batas kecepatan.
  • Mengangkut muatan berlebih.
  • Melanggar rambu lalu lintas dan marka jalan.
  • Sengaja menerobos lampu merah.
  • Tidak mematuhi aturan ganjil-genap.

Para pengendara kendaraan bermotor baik dua, empat maupun lebih yang telah terverifikasi melakukan pelanggaran-pelanggaran di atas akan mendapat surat konfirmasi yang dikirim oleh pihak yang bertugas melalui nomor hp, alamat email, maupun pos di wilayah masing-masing. 

Selain mendapatkan surat konfirmasi, para pelanggar lalu lintas juga akan menerima foto yang menjadi bukti atas pelanggarannya. Untuk waktu konfirmasi surat yang diberikan kepada masing-masing pelanggar hanya selama 5 hari saja, dengan waktu pembayaran denda selama 7 hari. Anda dapat menggunakan pembayaran denda tilang elektronik tersebut menggunakan BRIVA atau virtual tilang miliki Bank BRI. Jika telat membayar denda yang telah dilakukan, petugas akan menindak para pelanggar tersebut dengan cara memblokir sementara STNK kendaraan bermotornya. 

Selain membayar tilang, pengendara bermotor juga diberikan alternatif pilihan lain seperti menghadiri sidang. Mengenai lokasi pengadilan dan tanggal sidang akan dikirim melalui email, setelah pihak pelanggar melakukan konfirmasi. Alternatif ini dapat dipilih apabila pengendara tidak ingin menyelesaikan pelanggaran dengan metode pembayaran. 

Lalu, Bagaimana dengan Kendaraan yang sudah dijual? Lakukan konfirmasi ke petugas dengan memberikan informasi pengendara baru. Dengan demikian, kendaraan tersebut mudah diselidiki oleh petugas tilang elektronik. 

Perkiraan Besar Denda Tilangan e-TLE

Implementasi teknologi e-TLE yang sudah mulai dijalankan di beberapa wilayah Indonesia tentunya bertujuan untuk mempermudah petugas melakukan pendisiplinan terhadap para pelanggar lalu lintas. Dengan sistem ini, Direktorat Lalu Lintas akan jauh lebih mudah menyelidiki dan memberikan sanksi denda kepada pemilik kendaraan yang bersangkutan. Nah, untuk besar denda tilangan e-TLE sendiri masih sesuai dengan peraturan perundang-undangan lalu lintas nomor 22 tahun 2009. Berikut rinciannya:

  • Denda Rp. 500.000 atau 2 bulan kurungan penjara bagi pelanggar batas kecepatan dan rambu lalu lintas.
  • Denda Rp. 250.000 atau 1 bulan kurungan penjara bagi pelanggar yang tidak mentaati peraturan seperti tidak menyalakan lampu utama, tidak memasang sabuk pengaman dan sejenisnya. 
  • Denda Rp. 750.000 atau 3 bulan kurungan penjara bagi pelanggar yang melakukan aktivitas yang dapat mengganggu konsentrasi mengemudi.