utang luar negeri

Menghitung Utang Luar Negeri Indonesia Saat ini

Utang luar negeri selalu menjadi kontroversi di tanah air. Selama ini utang menjadi cara mengatasi defisit APBN. Bank Indonesia memberikan laporan bahwa utang luar negeri Indonesia atau biasa disebut ULN pada kuartal terakhir tahun 2020 mencapai US $ 417,5 miliar atau sekitar Rp 5.803 miliar dihitung dengan nilai tukar rupiah di angka Rp. 13.900. 

Nilai utang luar negeri Indonesia pada kuartal terakhir tahun 2020 tercatat lebih tinggi dari $ 413,4 miliar pada akhir kuartal ketiga. Total utang tersebut meliputi ULN sektor publik yaitu pemerintah dan bank sentral hingga akhir triwulan IV tahun 2020 sebesar US $ 209,2 miliar atau setara dengan Rp 2907 triliun, serta utang luar negeri swasta dan juga BUMN sebesar US $ 208,3 atau senilai dengan Rp 2,895.

Namun perlu diperhatikan bahwa selain utang luar negeri pemerintah, Indonesia juga mempunyai utang dalam negeri bersumber dari penerbitan surat berharga nasional, secara umum utang pemerintah saat ini sebesar Rp 6.074 triliun, dari utang luar negeri dan utang dalam negeri.

Sistem utang luar negeri yang baik tercermin dari rasio utang luar negeri Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB Indonesia pada akhir triwulan IV tahun 2020 yang berada pada angka 39,4%, yang mengalami penambahan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya pada angka 38,1%.

Pada program menjaga kesehatan struktur utang luar negeri, Bank Indonesia dan pemerintah akan terus menjalin koordinasi pemantauan perkembangan utang luar negeri dengan dukungan pengelolaan prinsip kehati-hatian.

Perbandingan Utang Luar Negeri Indonesia Pada Masa Pemerintahan SBY

Merujuk pada data Administrasi Umum Keuangan dan Manajemen Risiko Kementerian Keuangan, per 31 Desember 2004, total utang luar negeri pemerintah Indonesia pada era SBY mencapai US $ 68,57 miliar. Saat masa pemerintahan Presiden SBY yang pertama, utang luar negeri Indonesia memang terjadi turun dan naik. 

Pada kuartal terakhir tahun 2005, utang luar negeri turun menjadi 63,09 miliar dolar AS. Kemudian pada 2006 utang pemerintah menjadi US $ 62,03 miliar, pada 2007 menjadi US $ 62,25 miliar, dan pada 2008 menjadi US $ 65,44 miliar.

Kemudian, hingga 31 Maret 2009, atau mendekati berakhirnya masa jabatan pertama Presiden SBY, utang pemerintah Indonesia menjadi $ 63,2 miliar. Perlu diketahui, jumlah utang yang diterbitkan Kementerian Keuangan belum terhitung juga utang luar negeri yang bersumber dari surat berharga negara yang diterbitkan dalam mata uang asing.

Utang luar negeri Indonesia meningkat signifikan selama masa pemerintahan Presiden SBY yang kedua. Berdasarkan laporan yang diterbitkan Bank Indonesia pada triwulan ketiga tahun 2014 atau pada masa jabatan kedua Presiden SBY di fase terakhir, utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar US $ 292 miliar.

Secara spesifik, total utang pemerintah dan Bank Indonesia adalah 132 miliar dolar AS, dan total utang perusahaan swasta (termasuk BUMN) adalah 159,3 miliar dolar AS. Menurut BI, untuk utang sebesar itu rasio utang terhadap PDB adalah 34,68%.

Perbandingan Utang Luar Negeri Indonesia Pada Masa Pemerintahan Jokowi

utang luar negeri

Kalau diurutkan, utang luar negeri Indonesia yang dihitung berdasarkan dua masa jabatan Presiden Jokowi juga akan terus membumbung tinggi. Menurut catatan, pada era Presiden Jokowi, utang luar negeri Indonesia meningkat sebelum pandemi virus corona (Covid-19).

Pada masa pemerintahan pertama masa kepresidenan Presiden Jokowi atau saat masih dengan wakil Presiden  Jusuf Kalla pada triwulan terakhir tahun 2014, total utang luar negeri Indonesia yang ditarik oleh pemerintah dan BI adalah sebesar US $ 129,7 miliar (44,3% dari utang luar negeri semuanya).

Selanjutnya, pada kuartal IV tahun 2019 disaat Jokowi memimpin masa pemerintahan kedua, utang luar negeri Pemerintahan Indonesia dan BI tercatat US $ 202,9 miliar. Menurut laporan BI, total utang luar negeri pemerintah dan bank sentral Indonesia pada akhir kuartal keempat tahun 2020 mencapai US $ 209,2 miliar atau sekitar Rp 2.907 triliun. Hingga pada triwulan keempat tahun 2020, rasio utang terhadap PDB tetap berada pada angka 39,4%, walaupun bertambah jika dibandingkan pada triwulan sebelumnya sebesar 38,1%.

Perbandingan dengan Negara Lain

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengelola utang luar negeri saat ini, sehingga tetap pada defisit APBN sebesar 6%, angka tersebut lebih kecil dibandingkan negara lain, yang berada di angka 10%.

Ia menjelaskan, peningkatan defisit menunjukkan bahwa utang mereka juga meningkat, misalnya defisit di negara maju, yakni defisit di Amerika Serikat mendekati 15%, dan defisit di Prancis mendekati 10,8%. 

Tidak hanya itu, ia juga menyinggung banyak negara maju yang utang pemerintahnya telah melampaui tingkat produk domestik bruto, antara lain Amerika Serikat pada angka 103%, Prancis di angka 118%, Jerman menyumbang 72% dari, serta Cina mendekati angka 66%.