Perusahaan Startup yang Melakukan PHK Besar-Besaran

Belakangan ini, gelombang PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja melanda sejumlah perusahaan startup yang ada di Indonesia. Beberapa perusahaan rintisan ini melakukan PHK besar-besaran terhadap para karyawannya. 

Bahkan PHK massal ini terjadi pada beberapa perusahaan startup raksasa yang sudah menyandang status unicorn dan decacorn. Padahal, perusahaan rintisan tersebut seringkali menjadi dambaan para generasi millenial karena menawarkan gaji kompetitif dan dikenal dengan suasana kerjanya yang asyik.

Meski begitu, fenomena PHK massal tetap terjadi pada sejumlah perusahaan startup. Ada banyak faktor yang mendasari perusahaan-perusahaan startup mengambil langkah yang tidaklah mudah tersebut. 

Daftar Perusahaan Startup yang Melakukan Pengurangan Karyawan

Jumlah perusahaan startup yang melakukan PHK besar-besaran terus bertambah dalam setahun terakhir ini. Dan kemungkinan masih akan ada perusahaan startup yang melakukan pengurangan karyawan secara besar-besaran.

Berikut sejumlah startup yang sudah mengambil langkah PHK massal beberapa waktu lalu : 

  • MamiKos

MamiKos merupakan sebuah platform yang dihadirkan untuk orang-orang yang sedang mencari hunian indekos. Dengan adanya platform ini, bukan sesuatu yang mustahil untuk bisa menemukan indekos secara lebih praktis dan cepat. 

Sayangnya, MamiKos termasuk startup yang melakukan PHK massal pada sejumlah karyawannya. Pada bulan Juli lalu, dikabarkan sekitar 100 karyawan MamiKos terkena Pemutusan Hubungan Kerja. 

Hal tersebut dilakukan karena perusahaan tengah menghadapi ekonomi makro dan kondisi pasar saat ini. Sehingga yang diharapkan dari keputusan pengurangan karyawan yakni bisa menjaga keberlangsungan perusahaan dan menjadikannya lebih sehat.

  • Zenius

Perusahaan startup yang bergerak di sektor pendidikan ini melakukan PHK besar-besaran kepada karyawannya sebanyak dua kali selama tahun 2022. Pada bulan Mei lalu, PHK massal dilakukan pertama kali oleh Zenius terhadap ratusan pekerjanya. Keputusan ini diambil setelah Zenius melakukan perubahan pada model bisnisnya.

Kemudian pada bulan Agustus, PHK massal kembali dilakukan oleh perusahaan rintisan yang sudah berdiri sejak 2007 ini. Untuk kedua kalinya, Zenius melakukan pengurangan terhadap sejumlah karyawannya. Ini diakibatkan karena adanya perubahan pada perilaku konsumen dan kondisi perekonomian. 

Perusahaan pun berusaha memastikan keberlanjutan bisnisnya untuk jangka panjang dengan membuat beberapa kebijakan penghematan termasuk melakukan PHK.

  • TaniHub

TaniHub merupakan startup yang masih terbilang baru karena didirikan pada tahun 2016 lalu. Meski begitu, perusahaan ini termasuk startup agrikultur dengan pendapatan terbesar dan sebanyak 35 ribu petani telah menjadi mitra TaniHub.

Namun, perusahaan startup ini mengambil langkah PHK massal terhadap sejumlah karyawan setelah memutuskan untuk menutup dua warehouse TaniHub. Keputusan ini terpaksa dilakukan pada akhir bulan Februari 2022 lalu. Alasan yang memperkuat TaniHub melakukan hal tersebut karena ingin fokus menjalankan Business to Business (B2B). 

Kegiatan operasional yang berhubungan dengan Business to Customer (B2C) atau konsumen rumah tangga telah dihentikan. Jadi, TaniHub hanya akan meningkatkan pertumbuhan melalui B2B yakni ke kafe-kafe, restoran, hotel, UMKM, general trade, dan modern trade. 

  • Ajaib

Ajaib adalah salah satu perusahaan startup yang menyediakan platform untuk investasi. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga dilakukan oleh Ajaib terhadap 67 karyawannya. Tak hanya itu, jajaran manajemen dan para founders juga terkena dampaknya. Ajaib mengambil keputusan untuk memotong gaji manajemen dan tidak memberikan gaji kepada para founders. 

Langkah PHK massal dilakukan untuk mempersiapkan strategis bisnis yang kuat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Keputusan tersebut dipastikan tidak akan mempengaruhi keberlangsungan perusahaan dan layanan kepada nasabah.

  • Shopee

Berikutnya ada marketplace terbesar yang sudah menyandang status sebagai startup Decacorn. Platform belanja online ini paling sering digunakan oleh jutaan masyarakat di Indonesia untuk berbelanja apapun. 

Sayangnya, Shopee juga turut menambah daftar perusahaan startup yang melakukan PHK besar-besaran. Tak tanggung-tanggung, total karyawan yang di PHK oleh induk Shopee mencapai 7.000 orang. Sementara, di Shopee Indonesia sendiri pemutusan hubungan kerja dilakukan bulan September lalu kepada 187 pekerjanya. Meskipun cukup banyak yang terdampak dari kebijakan ini, Shopee Indonesia tetap akan bertanggung jawab untuk memberikan pesangon dan satu bulan gaji. 

  • GoTo (Gojek Tokopedia)

Belum lama ini, perusahaan startup GoTo atau Gojek Tokopedia sedang menjadi sorotan publik karena dikabarkan telah melakukan PHK massal kepada 1.300 pekerjanya. CEO GoTo Andre Soelistyo membenarkan kabar tersebut bahwa perusahaan terpaksa memangkas sekitar 12% dari total karyawan GoTo.

Keputusan berat itu dilakukan pada bulan November 2022 lalu dengan alasan agar kondisi keuangan perusahaan menjadi lebih sehat. Perusahaan rintisan yang baru berdiri bulan Mei 2021 ini juga sedang berupaya melakukan pengurangan biaya-biaya operasional. Sehingga diharapkan dengan PHK massal, keuangan perusahaan tetap terjaga.

Nah, itulah tadi daftar perusahaan startup yang harus mengambil kebijakan sulit. Semoga kondisi ekonomi Indonesia segera pulih agar tak perlu ada lagi perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja kepada karyawannya.