moeldoko

Rekam Jejak Moeldoko Calon Ketum Demokrat

Isu adanya kudeta pada kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari partai Demokrat menjadi perbincangan belakangan ini. Jenderal TNI Purnawirawan Moeldoko selaku kepala kantor staf presiden mendapatkan tuduhan sebagai salah satu pelakunya. Mantan Panglima TNI tersebut juga digadang-gadang akan maju sebagai calon presiden (Capres) 2024. Moeldoko pun mengatakan jika ia tidak pernah membahas tentang Pilpres 2024. Namun, ia tidak mempermasalahkan jika memang nantinya namanya akan diorbitkan. 

“Untuk masalah 2024 pernahkan saya membahas selama ini mengenai 2024? Tidak pernah. Jika yang mengorbitkan disana, ya sudah alhamdulillah kan begitu,” tutur Moeldoko ketika melaksanakan konferensi pers di kediamannya di Jakarta pada Rabu (3/1/2021). 

Selain itu, Moeldoko juga menegaskan jika dirinya bukanlah orang yang senang untuk mengemis jabatan. Seperti saat diwawancara ia menuturkan “Ya urusan, tapi tidak usah dipikirkanlah. Saya itu orang yang mencintai pekerjaan, saya juga profesional dan semua itu saya terapkan dimana saja kalau saya profesional. Saya dapat berdiri pada sebuah keyakinan saya itu,”.

Dan juga Moeldoko adalah lulusan terbaik di Akademi Militer. Ia dilantik menjadi seorang Panglima TNI oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2013 silam. Saat sebelum menjadi seorang Panglima TNI, ia menjabat menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD). 

Ketika sudah pensiun dari dunia militer, akhirnya ia terjun ke dalam dunia politik. Anak laki-laki dari pasangan Masfuah dan Moestaman tersebut akhirnya masuk ke dalam Partai Hanura pada akhir Desember di tahun 2016. Anak bungsu yang memiliki 12 bersaudara ini ternyata pernah menjabat menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Hanura. 

“Ya, beliau pernah masuk di dewan pembina, Pak Moeldoko itu menjadi teman baik saya,” tutur Ketua Umum Partai Hanura yakni Oesman Sapta Odang (OSO) di kediamannya, di Jalan Karang Asem, Kuningan, Jakarta pada hari Kamis (22/12/2016). 

Namun, ternyata Moeldoko sudah mundur dari Partai Hanura. Ia mengatakan “Saya mau menjadi seorang yang profesional, saya mau seluruh pekerjaan yang saya kerjakan sungguh-sungguh dan juga profesional. Itu merupakan concern orang yang terlalu fokus ya. Saya terlalu fokus untuk pekerjaan,” jelasnya pada Kamis, 5 Juli 2018 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. 

Lebih Lanjut Lagi Mengenai Moeldoko

moeldoko

Pada saat itu, Moeldoko juga termasuk ke dalam tim pemenang Pasangan dari Jokowi dan Maruf Amin pada Pilpres 2019 silam. Selain itu, Moeldoko juga menjabat menjadi wakil ketua tim kampanye nasional (TKN) dan juga merangkap menjadi ketua harian TKN Jokowi dan Maruf. Karir Moeldoko dalam dunia politik ini terbilang lumayan, ia dilantik menjadi kepala kantor staf presiden pada hari Rabu, 17 Januari 2018 untuk menggantikan Teten Masduki. 

Namun, ada salah satu pakar politik dari Indo Barometer yaitu M. Qodari yang mengatakan jika Moeldoko merupakan tokoh senior yang pernah menjabat menjadi jenderal dan juga Panglima TNI yang sudah berpangkat tinggi lebih dari Susilo Bambang Yudhoyono. Selain itu, ia juga berpengalaman di KSP dan juga memimpin KSP. 

Qodari mengaku jika dari sisi pengalaman, Moeldoko sudah lumayan makan asam garam untuk organisasi maupun pemerintahan. Hal tersebut menurutnya berbanding jauh dengan AHY yang hanya berpangkat Mayor ketika berada di TNI. 

“Jadi untuk pengalaman organisasi dan juga pemerintahan sih udah oke, dan itu pastinya lebih dianggap dibandingkan dengan AHY ya, karena kan AHY junior dan pangkatnya mayor. Anggaplah tinggi di pemerintahan itu,” katanya. 

Tidak sampai disitu saja, Qodari juga mengatakan jika memang kemungkinan pertemuan para kader Partai Demokrat dengan Moeldoko tersebut untuk merencanakan ia menjadi seorang Ketua Umum dari Partai Demokrat atau juga untuk merencanakan Moeldoko menjadi calon presiden pada Pilpres 2024 mendatang. 

“Jika ke Pak Moeldoko tersebut bisa saja ada 2 kemungkinan, yang pertama untuk dijadikan sebagai Ketum dari Partai Demokrat dan yang kedua untuk menjadi calon presiden,” jelas Qodari. 

Namun, menurut Qodari sendiri, langkah-langkah untuk menetapkan Moeldoko sebagai calon presiden akan dirasa cukup berat, karena mengingat tidak pernah ada survei selama ini yang menunjukkan Moeldoko mendapatkan suara yang tinggi untuk hal tersebut. 

“Sebenarnya jika ingin menjadikan Pak Moeldoko sebagai capres itu mungkin asih berat ya, keadaannya karena kita atau saya tidak pernah melihat hasil survei untuk Pak Moeldoko yang benar-benar sangat tinggi yang mana seperti saya melihat hasil survei Pak Jokowi dahulu pada tahun 2003 hingga 2009,” ungkapnya. 

Selain itu, Qodari juga menilai jika harapan untuk bisa mencalonkan Pak Moeldoko pada tahun 2024 belum cukup realistis, karena katanya berdasarkan dari hasil survei capres, nama Moeldoko sendiri belum sepenuhnya memiliki elektabilitas untuk sekarang. Sehingga belum bisa dipastikan untuk saat ini.